Sinopsis
Godfather
adalah sang pemimpin Mafia bernama Don Vito Corleone, pria pemurah yang tak
kenal ampun dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan. Ia pria yang ramah,
"logis", adil dan pemimpin kelompok paling mematikan di Cosa Nostra.
Pusat komando Godfather berada di Long Island, tempat ia memimpin kerajaan
bawah tanah raksasa yang menguasai berbagai kegiatan bisnis ilegal, perjudian,
taruhan pacuan kuda, dan serikat buruh. Tiran, pemeras, pembunuh ia memberikan
persahabatannya (tak ada yang berani menolak) dan menentukan mana yang benar
dan mana yang salah (pembunuhan halal dilakukan demi keadilan). The Godfather
memaparkan kehidupan Mafia New York City: perebutan kekuasaan, penghargaan
terhadap keluarga, cinta, dan loyalitas, dan berbagai konsekuensi hidup di
tengah pembunuh, korupsi, dan balas dendam. Para tokohnya merupakan
karakter-karakter kompleks yang memiliki harapan, impian, dan ketakutan, tapi
juga merupakan pembunuh keji.
Resensi
The
Godfather menceritakan kisah keluarga Mafia yang dipimpin oleh Don Vito
Corleone, ia dikenal sebagai salah satu pemimpin Mafia Sisilia yang disegani.
Corleone dikenal sebagai seorang pria yang logis, adil dan murah hati. Ia kerap
didatangi siapa saja untuk dimintai bantuan. Ia tidak pernah memberikan janji
kosong. Hanya satu hal yang diinginkanya, yaitu orang itu menyatakan
persahabatannya pada Corleone. Hal ini menyebabkan dirinya digelari “Don” yang
terhormat, dan panggilan lainnya yang lebih penuh kasih, “Godfather”.
Awalnya
keluarga Corleone hidup secara aman. Bisnisnya berjalan dengan lancar dan
menguntungkan. Namun ketentraman ini terganggu ketika Sollonzo yang didukung
keluarga mafia Tattaglia, salah satu dari Lima Keluarga Mafia yang berpengaruh
di Amerika sekaligus saingan utama keluarga Corleone mengajaknya untuk bekerja
sama melakukan bisnis narkotika. Don Corleone menolak. Penolakan Don Corleone menimbulkan sakit hati bagi Sollonzo dan
keluarga mafia Tattaglia. Ditambah dengan kenyataan bahwa tanpa dukungan
Corleone tak mungkin bagi Sollonzo untuk melaksanakan bisnis narkotikanya. Don
Corleone kemudian ditembak oleh kaki tangan Sollonzo. Peristiwa ini memicu
terjadinya perang antar mafia.
Don
Corleone luput dari maut, namun terluka cukup parah. Selama Don Corleone dalam
perawatan, pimpinan keluarga Corleone dikendalikan oleh Sonny Corleone, putra
kedua Don Corleone dan dibantu oleh Tom Hagen selaku consigliere (penasehat)
keluarga Corleone. Belum pulihnya
Don Corleone dimanfaatkan oleh keluarga Tattaglia untuk membalas dendam
kematian Sollonzo dan memuluskan bisnis narkotikanya. Hal ini membuat Don Corleone
yang bijak mengambil langkah untuk menghentikan balas dendam antar keluarga
yang tiada akhir. Suskes dengan misi damainya Sang Godfather mengundurkan diri
dari dunia mafia. Cerita belum berakhir. Putra bungsu Corleone, Michael
Corleone dengan langkah-langkah briliannya terus berusaha untuk mengembalikan
kejayaan keluarga Corleone.
Mario
Puzo dalam novelnya ini mengemas kisah keluarga Corleone dengan kerajaan bawah
tanahnya dengan menarik. Sejak awal pembaca akan diikutsertakan dalam sebuah
petualangan sepak terjang sang Godfather beserta tokoh-tokohnya yang memiliki
beragam karakter yang kompleks. Terlepas dari benar tidaknya gambaran yang
diberikan Puzo dalam novelnya ini, sepak terjang Mafia dalam kehidupan
masyarakat Amerika memang tak dak dapat dipungkiri keberadaannya. Ketika The
Godfather terbit, novel ini mendapat sambutan yang sangat baik. Puzo bahkan
menjadi penulis tenar dan The Godfather kini menjadi novel klasik yang akan
dikenang sepanjang masa. Kesuksesan The Godfather berlanjut ketika novel ini
dilirik oleh sutradara Francis Ford Copolla yang bersama-sama Puzo mengadaptasi
novel ini ke layar perak. Puzo dan Copolla memperoleh Oscar untuk Skenario
Adaptasi Terbaik. Difilmkan pada tahun 1972, The Godfather dibintangi Marlon
Brando, Al Pacino, James Caan, Robert Duvall, dan Diane Keaton. Film ini
memperoleh 10 nominasi Oscar dan akhirnya memenangkan Film Terbaik, Pemeran
Utama Terbaik (Marlon Brando), dan Skenario Adaptasi Terbaik (Mario Puzo dan
Francis Ford Coppola).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar