Sabtu, 16 Maret 2013

Perbedaan Karya Ilmiah, Semi Ilmiah dan Non Ilmiah


I     Karya Ilmiah
Karya ilmiah adalah karya tulis yang memaparkan hasil penelitian yang disajikan dalam bahasa formal yang sistematis-metodis dan didukung dengan fakta sehingga dapat dipastikan kebenarannya demi memenuhi bidang keilmuan.

Ciri-ciri karya ilmiah:
1.       Sesuai dengan objek yang diteliti
2.       Bersifat metodis dan sistematis
3.       Menggunakan bahasa yang baku dan formal, dan bersifat lugas agak tidak menimbulkan makna ganda.

Macam-macam karya ilmiah:
a.       Karya ilmiah pendidikan
Digunakan untuk meresume pelajaran serta persyaratan mencapai gelar pendidikan.
1.       Paper (karya tulis)
2.       Pra skripsi
3.       Skripsi, yaitu karya tulis ilmiah yang mengemukakan pendapat penulis berdasarkan pendapat orang lain
4.       Thesis, yaitu karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih mendalam daripada skripsi
5.       Disertasi, yaitu karya tulis ilmiah yang mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan oleh penulis berdasarkan data dan fakta yang sahih dengan analisis yang terinci
b.      Karya ilmiah penelitian
1.       Makalah seminar
2.       Laporan hasil penelitian
3.       Jurnal penelitian

II    Karya Semi Ilmiah
                Karya Semi Ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum dan menurut metodologi penulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasa formal, kata-kata teknis dan didukung dengan fakta-fakta umum yang terbukti benar atau tidaknya. Semi ilmiah juga merupakan sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannya pun semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering dimasukkan karangan non-ilmiah. Maksudnya karena jenis semi ilmiah memang masih banyak digunakan misalnya dalam komik, anekdot, dongeng, hikayat, novel, roman dan cerpen.

Ciri-ciri Karya Semi Ilmiah:
1. Emotif: Kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi
2. Persuasif: Penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative
3. Deskriptif: Pendapat pribadi, sebagian imajenatif dan subjektif
4. Kritik tanpa dukungan bukti.

III  Karya Non Ilmiah
Karya non ilmiah sangat bervariasi topic dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum, ditulis berdasarkan fakta pribadi, umumnya bersifat sunjektif, gaya bahasanya bias konkret atau abstrak, konotatifl dan popular. Satu cirri pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya berupa kisah rekaan.

Ciri-ciri karya non ilmiah:
1.       Bersifat persuasive
2.       Ditulis berdasarkan fakta pribadi
3.       Fakta yang disimpulkan subyektif
4.       Bersifat imajinatif
5.       Gaya bahasa konotatif dan popular
6.       Situasi di dramatisir
7.       Tidak memuat hipotesiis
8.       Penyajian dibarengi dengan sejarah

Contoh karya non ilmiah: Cerpen, puisi, novel, komik

Sifat karya non ilmiah:
1.       Emotif: Kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi
2.       Persuasif: Penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative
3.       Deskriptif: Pendapat pribadi, sebagian imajenatif dan subjektif
4.       Kritik tanpa dukungan bukti.

Kesimpulan saya, Karya ilmiah merupakan karya tulis formal yang sistematis-metodis dari hasil penelitian berdasarkan fakta yang dapat dibuktikan secara objektif. Sedangkan karya non ilmiah merupakan karya tulis non formal yang bersifat imajinatif dengan fakta yang subyektif dengan tujuan keuntungan, biasanya menggunakan bahasa popular. Dan karya semi ilmiah berada diantara unsur-unsur didalam karya ilmiah dan non ilmiah atau campuran.

Penalaran Deduktif


Penalaran Deduktif
                Penalaran Deduktif adalah metode penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum.
Pola: Umum ke khusus

Macam-macam penalaran deduktif:
a.       Silogisme
Adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Tersusun atas dua proporsi (pernyataan) dan sesuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian tiga buah pendapat, yang terdiri dari dua pendapat dan satu kesimpulan.
                Contoh:                Semua wanita itu cantik.               (P1)
        Tanya adalah seorang wanita.         (P2)
        Jadi, Tanya itu cantik.                          (Konklusi)

                Silogisme terdiri atas 3 macam, yaitu:
-                     Silogisme Katagorial
Adalah silogisme yang semua proporsinya merupakan katagorik. Proporsi yang mendukung silogisme disebut premis, yang dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat) dan premis minor (premis yang termnya menjadi subjek). Dan dihubungkan oleh term penengah (middle term).

-                   Silogisme Hipotesis
Adalah silogisme yang argument premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik.

-                  Silogisme Alternatif
Adalah silogisme yang premis mayornya merupakan keputusan disyungtif, sedangkan premis minornya adalah katagorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternative yang disebut oleh premis mayor.
b.      Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dapat dikatakan pula sebagai silogisme yang premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Contoh:                    Proses fotosintesis memerlukan matahari
                                Pada malam hari tidak ada matahari
                                Pada malam hari tidak mungkin ada proses fotosintesis

Kesimpulan saya, metode penarikan kesimpulan dengan penalaran induktif yaitu dari hal yang khusus ke umum. Sedangkan  penalaran deduktif dari umum ke khusus. Diperlukan data-data dan bukti kebenaran atau fakta untuk mendapatkan kesimpulan. Dari sekian banyak metode baik dalam penalaran induktif maupun deduktif, tidak mungkin hanya dengan satu data atau fakta dapat menhasilkan kesimpulan. Dibutuhkan dua bahkan lebih agar mencapai probabilitasnya.

Source:                 http://ekhafr.blogspot.com/2013/03/penalaran-deduktif.html
                             http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/10/tugas-1-penalaran-deduktif/

Penalaran Induktif


Penalaran Induktif adalah metode yang digunakan dalam berfikir untuk menarik kesimpulan yang diukur dari hal-hal yang khusus ke umum.
Pola: Khusus ke Umum
Penalaran Induktif terdapat 3 macam, antaralain:
1.       Generalisasi
Generalisasi adalah penalaran induktif yang menarik kesimpulan secara umum berdasarkan jumlah data. Jumlah data disini harus cukup dan dapat mewakili untuk dikemukakan.
a.      Generalisasi sempurna: Penarikan subjek secara satu per satu sehingga menghasilkan kesimpulan.
Contoh:

b.  Generalisasi tidak sempurna: Penarikan dengan lencatan induktif atau sebagian subjek saja sehingga menghasilkan kesimpulan.
Contoh:

Generalisasi disebut juga sebagai induksi tidak sempurna (lengkap). Menurut Aristoteles bentuk induksi semacam ini harus didasarkan pada pemeriksaan atas seluruh fakta yang berhubungan, namun hal tersebut jarang dicapai. Karnanya, guna mencari jalan yang praktis kita dapat menentukan generalisasi dengan 3 cara:
-             Menambah jumlah kasus yang diuji sehingga dapat menambah probabilitasnya. Lakukan dengan seksama dan kritis  untuk menentukan generalisasi sudah mencapai probabilitas atau belum.
-                   Melihat adakah sample yang diselidiki cukup representative mewakili kelompok yang diperiksa.
-                  Apabila ada kekecualian, apakah juga diperhitungkan dan diperhatikan dalam membuat dan melancarkan generalisasi

2.       Analogi
Analogi Induktif adalah suatu cara berfikir berdasarkan persamaan yang nyata dan terbukti dari kejadian khusus ke suatu kejadian khusus lainnya. Kebenaran pada satu akan mewakili kebenaran dari yang lainnya. Namun kita tidak dapat membuat kesimpulkan hanya berdasarkan persamaan kebetulan dan perbandingan untuk sekadar penjelasan. Diperlukan suatu kesamaan dari yang penting sehingga dapat disimpulkan serupa dalam beberapa karakteristik.
Metode Analogi ini sering digunakan untuk meramalkan kejadian, klasifikasi, dan menyikap kekeliruan.

3.       Sebab Akibat
Sebab akibat atau disebut juga hubungan kausalitas merupakan sebab sampai kepada kesimpulan yang merupakan akibat atau sebaliknya. Ada tiga jenis hubungan kausal, yaitu:
-                     Sebab-Akibat
Dimulai dengan mengemukakan fakta yang menjadi sebab dan kesimpulan yang menjadi akibat.
Pola: Gagasan pokok => Akibat, Gagasan penjelas => Sebab.
-                   Akibat-Sebab
Dimulai dengan fakta yang menjadi akibat, kemudian dari fakta itu dianalisis untuk mencari sebabnya.
-                  Sebab-Akibat-Akibat
Dimulai dari suatu sebab yang dapat menimbulkan serangkaian akibat. Akibat pertama berubah menjadi sebab yang menimbulkan akibat kedua, seterusnya hingga timbul rangkaian beberapa akibat.
                Pada umumnya yang sering dipakai adalah sebab-akibat dan akibat-sebab.

Source:             http://id/wikipedia.org/wiki/Penalaran